Jumat, 02 Januari 2009
Sebuah kisah di musim dingin
True story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao.
Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun,
Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan
menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan
membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lainnya
Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei
menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.
Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak
terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain
dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.
Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya
untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.
Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari
luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran,
pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.
Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan
sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis
meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan
membopong Lie Mei masuk ke rumah.
Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan
nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.
Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus
kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada
kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap
terbaca *,"Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku
membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli
biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun."*
**Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.**
Selasa, 02 September 2008
ILUSTRASI "TENTANG TUKANG ROMBENG"
Untuk orang seperti siapakah Dia datang? Untuk bilangan waktu manakah Dia menjelang? Berikut adalah kisah yang menunjukkan kepada siapa dan kapan Dia akan datang. Semuanya, hanya satu saja dasarnya: Cinta!
Menjelang fajar, pada suatu hari Jumat, saya melihat seorang pria muda, tampan, dan kuat, berjalan di lorong-lorong kota kami. Dia menarik gerobak yang penuh dengan pakaian baru sambil berseru dengan suara nyaring, "Rombeng!" Ah, udara berbau busuk dan cahaya yang muram itu dilintasi oleh suara musik yang indah.
"Rombeng! Baju lama ditukar baju baru! Saya menerima baju rombeng! Rombeng!"
"Sekarang inilah keajaiban," pikir saya dalam hati, karena pria ini tinggi besar, dan lengannya kukuh seperti dahan pohon, keras dan berotot. Matanya menyorotkan kecerdasan. Apakah dia tidak dapat mencari pekerjaan yang lebih baik sehingga memilih menjadi tukang rombeng di kota yang kumuh? Saya mengikutinya karena keingintahuan saya yang besar. Dan, saya tidak kecewa. Tukang rombeng itu melihat seorang wanita duduk di beranda belakang.
Dengan saputangan menutupi wajahnya, dia menangis, mengeluh dan mencucurkan ribuan tetes air mata. Lutut dan sikunya membentuk huruf X. Bahunya bergetar. Hatinya hancur. Tukang rombeng itu menghentikan gerobaknya. Dengan tenang, dia menghampiri wanita itu sambil menginjak kaleng-kaleng kosong, mainan rusak, dan barang rongsokan lainnya.
"Berikan barang rombengmu," ujar tukang rombeng itu dengan sabar, "dan saya akan memberimu barang baru."
Tukang rombeng itu melepaskan saputangan dari mata wanita itu. Wanita itu memandangnya, dan tukang rombeng itu meletakkan sebuah saputangan linen yang baru dan bersih ke telapak tangannya. Mata wanita itu beralih dari pemberian itu ke pemberinya.
Kemudian, saat tukang rombeng itu menarik gerobaknya kembali, dia melakukan hal yang aneh: Dia mengusapkan saputangan yang penuh noda itu ke wajahnya sendiri, dan kemudian dia mulai menangis. Dia menangis begitu kerasnya seperti wanita itu sehingga pundaknya bergetar. Namun, wanita itu tidak lagi menangis.
"Ini ajaib," ujar saya kepada diri saya sendiri, dan saya mengikuti tukang rombeng seperti seorang anak yang ingin membongkar suatu misteri.
"Rombeng! Rombeng! Baju tua saya ganti dengan baju baru!"
Tidak lama kemudian, ketika matahari makin tinggi, tukang rombeng itu mendatangi seorang gadis yang kepalanya dibalut. Mata gadis itu menatap kosong. Darah membasahi perbannya. Aliran darah mengalir di pipinya. Sekarang, tukang rombeng yang tinggi itu menatap gadis itu dengan rasa kasihan, dan dia mengeluarkan topi wanita dari gerobaknya.
"Berikan perbanmu," ujarnya, "dan saya akan memberimu sebuah topi baru."
Anak gadis itu hanya dapat menatap tukang rombeng dengan heran ketika dia mulai melepaskan perban dari kepalanya dan memasangnya di kepalanya sendiri.
Kemudian, dia memasang topi baru itu di kepala gadis kecil itu. Dan, saya terperangah dengan apa yang saya lihat. Sekarang, ganti kepala tukang rombeng itu yang terluka. Di alisnya mengalir darah segar, darahnya sendiri!
"Rombeng! Rombeng! Saya menerima barang rombeng!" teriak tukang rombeng yang kuat, cerdas tetapi menangis dan berdarah.
Matahari menyilaukan mata saya dan tukang rombeng itu tampak semakin tergesa-gesa.
"Apakah kamu mau bekerja?" tanyanya kepada seorang yang bersandar di tiang telepon. Pria itu menggelengkan kepalanya.
Tukang rombeng itu mendesaknya, "Apakah kamu memiliki pekerjaan?"
"Kamu gila ya?" ujar orang itu sambil menyeringai. Dia tidak lagi bersandar di tiang telepon, tetapi membuka lengan bajunya dan menarik tangannya dari kantung jaketnya. Dia tidak mempunyai tangan.
"Berikan jaketmu kepada saya dan saya akan memberimu jaket saya," perintah tukang rombeng itu.
Suaranya memancarkan otoritas! Pria buntung itu melepaskan jaketnya. Demikian juga tukang rombeng itu. Dan, saya gemetar mengetahui apa yang saya lihat: lengan tukang rombeng itu melekat di jaketnya dan ketika pria buntung itu mengenakan jaket, lengan itu terpasang di pundaknya. Sekarang, tukang rombeng itu buntung sebelah tangannya.
"Pergilah bekerja," ujar tukang rombeng itu.
Setelah itu, tukang rombeng menjumpai seorang pemabuk yang berbaring pingsan di bawah selimut tentara. Pemabuk itu tampak tua dan memprihatinkan. Tukang rombeng itu mengambil selimut pemabuk itu dan membungkuskannya ke tubuhnya sendiri, lalu menyelimuti pemabuk tua itu dengan selimut baru.
Dan, sekarang saya harus berlari supaya bisa mengikuti tukang rombeng itu. Meskipun dia menangis menjadi-jadi, peluh bercucuran di wajahnya, menarik gerobak dengan satu lengan, tersandung, terjatuh berkali-kali, kelelahan, tua dan sakit, dia melangkah dengan kecepatan tinggi. Dengan "kaki laba-laba" dia menyusuri lorong-lorong kota itu.
Saya terkejut melihat perubahan pria ini. Saya sedih melihat penderitaannya. Meskipun demikian, saya ingin melihat ke mana dia pergi dengan begitu tergesa-gesa dan saya juga ingin mengetahui apa yang membuatnya melakukan semua ini.
Tukang rombeng yang sekarang bertubuh kecil dan tua itu pergi ke suatu tempat. Dia menghampiri sebuah lubang sampah. Saya ingin membantunya mengerjakan apa pun, namun saya menarik diri dan bersembunyi. Dia mendaki sebuah bukit. Dengan usaha yang keras, dia membersihkan sebuah tempat di bukit itu. Kemudian, dia menarik napas. Dia berbaring. Dia memakai sebuah saputangan dan jaket sebagai bantalnya. Dia menutupi tulang-tulangnya dengan selimut tentara. Dan, dia mati.
Oh, saya menangis menyaksikan kematian seperti itu! Saya masuk ke sebuah mobil rongsokan dan menangis serta meratap seperti seorang yang tidak punya harapan, karena saya mulai mencintai tukang rombeng itu. Setiap wajah yang saya kenal memudar ketika saya melihat wajah tukang rombeng itu. Saya sangat menghargai tukang rombeng itu, tetapi dia mati.
Saya menangis terus sampai jatuh tertidur.
Saya tidak tahu -bagaimana saya bisa tahu?- bahwa saya tidur melewati Jumat malam dan Sabtu malam. Tetapi kemudian, pada Minggu pagi, saya tersentak bangun. Cahaya -sinar yang murni- menghunjam wajah saya yang kecut, dan saya mengerjapkan mata saya. Saya melihat keajaiban yang terakhir dan pertama. Tukang rombeng itu bangun, melipat selimutnya dengan amat hati-hati.
Ada goresan luka di dahinya, namun dia hidup! Di samping itu, dia juga sehat! Tidak ada kesan sedih atau tua di wajahnya, dan semua rombengan yang berhasil dikumpulkannya tampak bersih dan bersinar. Saya tidak sanggup menatap semua itu lagi. Saya gemetar melihat semua itu. Saya berjalan mendekati tukang rombeng itu. Saya memberi tahu nama saya dengan rasa malu, karena saya adalah makhluk yang patut dikasihani di depannya.
Kemudian, saya melepaskan pakaian saya di tempat itu, dan saya berkata kepadanya dengan penuh permohonan, "Beri saya pakaian baru."
Dia memakaikan pakaian baru di tubuh saya. Saya menjadi ciptaan baru di tangannya. Tukang rombeng itu, tukang rombeng itu, tukang rombeng itu,SIAPAKAH TUKANG ROMBENG ITU ???IA adalah Kristus
(Diambil dari sebuah cerita dan hanyalah ilustrasi untuk membuat kita mudah merefleksikan ke dalam diri kita )
Rabu, 06 Agustus 2008
The Journey of Faith

Setiap kali berkirim surat, saya merasa bahwa itu merupakan suatu latihan untuk percaya. Berikut saya jelaskan maksud saya. Ketika saya menulis surat untuk seorang sahabat jauh, saya tidak mungkin mengirimkannya sendiri. Saya memerlukan jasa pelayanan pos.
Namun sebelumnya saya harus memasukkan surat itu ke kotak surat. Saya tidak dapat memegang erat-erat surat itu.
Saya harus melepaskan surat tersebut. Kemudian, saya harus mempercayai pihak pos untuk mengambil alih surat tersebut dan mengantarnya kepada sahabat saya. Meski saya tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan surat itu, saya yakin pihak pos akan membawa surat surat saya ke tempat tujuan dalam keadaan baik sama seperti sewaktu saya poskan.
Demikian pula halnya bila kita dihadapkan pada sebuah persoalan. Saat itu, iman kita diuji. Kita tahu bahwa mustahil bagi kita untuk memecahkan semua permasalahan seorang diri, dan kita harus mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah. Namun pertama-tama kita harus datang kepada-Nya dalam doa dan senantiasa berbicara kepada Allah melalui doa doa kita..
Saat itu kita mungkin masih memegang erat masalah kita meski kita tahu situasi tidak akan berubah bila kita tidak melepaskannya dan menyerahkannya ke dalam tangan Allah. Saat kita menyerahkannya kepada Allah, biarkan Dia mengambil alih sampai masalah itu diselesaikan menurut cara-Nya.
Meskipun kita tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dikerjakan-Nya, iman kita adalah "Bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1), dan jaminan bahwa pekerjaan-Nya selalu dikerjakan dengan sempurna.
Sudahkah Anda belajar untuk mempercayai-Nya hari ini? Mari saya ajak semua sahabat mdc untuk lebih mempercayai Allah ( beriman kpd Allah) karena Dia sanggup melakukan segala perkara.
MEMPERCAYAI ALLAH BERARTI MENGUBAH SEBUAH MASALAH MENJADI SUATU KESEMPATAN
Hampir setiap orang berusaha memiliki sepeda motor. Sepeda motor berfungsi salah satunya sebagai alat transportasi dari satu tempat ke tempat lain. Singkatnya untuk mencapai tujuan. Dapatkah orang mencapai tujuan dengan sepeda motor tetapi bensinya habis, kosong ? Dapat dibayangkan jika satu hari saja tidak ada bensin. Manusia tidak dapat kemana-mana dan mengalami kebingunan. Maka setiap pemilik sepeda motor akan selalu mengecek bensin sepeda motor masih ada atau habis. Jika kosong maka segera diisi nah begitu pula dengan hidup kita jangan sampai ada kekosongan terjadi dalam hidup anda segeralah isi dengan bensin illahi yang akan membuat hidup anda jadi bergairah dan bersemangat dalam Tuhan.
Manusia hidup memiliki tujuan. Agar manusia sampai tujuan maka manusia perlu berjalan. Salah satu tujuan hidup manusia bertumbuh, lebih dewasa, ada kemajuan dll. Manusia ingin sampai tujuan tetapi manusia lupa bahwa bahan bakarnya habis, kosong. Sehingga perlu diisi bensin kehidupan. Jika bensinnya nasi cepat habis, karena bensin nasi, sampai siang sudah lapar lagi. Sehingga sebentar-sebentar mesti mengisi bensin nasi. Ada juga yang memakai bensin kekayaan, bensin kekuasaan. Bensin egoisme. Itulah bensin-bensin duniawi yang selalu dikampayekan agar selalu berhenti dan membeli. Padahal dengan mengisi bensin duniawi manusia tidak akan pernah sampai pada tujuan kehidupannya.Tetapi oleh bensin duniawi manusia "seolah-olah" sampai.
Manusia lebih suka membeli bensin duniawi yang cepat habis. Sebetulnya ada bensin yang tidak cepat habis.Yaitu bensin ilahi yang tidak lain adalah iman. Karena bensin iman maka semakin sering dipakai, iman kita bertambah. Tidak pernah habis. Semakin kita beriman kepada Allah berarti kita kan melepaskan iman kita kepada Allah.
Dan Allah menghargai keimanan kita dengan kasihnya menambah iman sebelum iman kita habis dan berhenti di tengah jalan. Dan itulah mengapa semakin kita sering beriman kepada Allah kita keimanan kita bertambah dan bertambah terus. Kita punya iman 1 kita gunakan maka iman kita menjadi 3 digunakan lagi menjadi 9 dan digunakan lagi menjadi 81 dan seterusnya. Kita tidak akan pernah kehabisan bensin iman karena semakin sering kita gunakan iman terus-dan terus bertumbuh, bertambah danberkembang.
Untuk itu sebelum perjalan hidup kita terhenti karena kehabisan bensin duniawi segeralah menggunakan bensin ilahi yang sudah diberi oleh Allah sendiri. Kita tidak perlu membeli karena secara cuma-cuma Allah memberi. Kita hanya perlu menggunakan dan memakainya. Allah sungguh senang ketika kita menggunakan bensin iman, keyakinan kepada Allah, maka Allah akan menambah-nambah iman, dan iman kita pun bertambah dan bertambah. Dan bensin illahi membuat kesukaan yang sangat luar biasa apakah anda sudah siap untuk menerima bensin illahi ini ?
" Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.
NR/2008
Jumat, 01 Agustus 2008
Auto surf Klick,klikck dibayar Mau ?????
Nah dari Pada bengong, sambil baca blog surfing klik klik iklan dapet duit dah
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkhotbah 4:6). "
Sering kali memang kita harus berdiam diri agar kita bisa mendengarkan suara hati kita dan tentunya suara Tuhan. Dengan berdiam diri kita bisa merasakan betapa besarnya kasih Allah yang selama ini telah kita dapat. Dengan berdiam diri kita bisa menyadari betapa berdosanya kita dihadapan Tuhan, namun hanya karena kasih karuniaNya kita beroleh keselamatan.
Segmen ( mendengar apa yang benar) nr/01/2008
Uang merupakan salah satu harga yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu. Sayangnya, banyak umat Tuhan yang tidak menyadari hal ini. Mereka lupa menyediakan dana untuk pengembangan diri mereka.
TIDAK
1 Menyalahkan keadaan
“Saya tidak mempunyai uang untuk mengembangkan diri!” Ungkapan seperti ini sering saya jumpai ketika menyarankan seseorang agar senantiasa mengembangkan dirinya. Akibatnya mereka merasa tidak bersalah ketika diri mereka tidak berkembang. Mereka menyalahkan keadaan keuangan yang menyebabkan mereka berhenti berkembang.
2 Tidak menyadari kebutuhan untuk berkembang
Salah satu obrolan utama dalam acara reuni adalah membandingkan apa yang sudah dicapai seseorang dengan pencapaian teman-temannya. Dari obrolan seperti ini biasanya seseorang baru menyadari bagaimana usaha yang telah dia lakukan dalam mengembangkan dirinya. Saat itulah biasanya mereka mengevaluasi total segala usaha yang sudah dilakukan. Sebenarnya, kesadaran ini sudah sa-ngat terlambat. Setiap orang seharusnya mengevaluasi diri apa yang sudah dicapai secara berkala.
3 Salah menentukan prioritas
“Kebutuhan saya sangat banyak, saya tidak memiliki uang sisa untuk mengembangkan diri!” Pernyataan ini biasanya didukung beberapa alasan tambahan untuk membenarkan bahwa uang mereka memang tidak tersisa. Memang, kadang mereka sama sekali tidak memiliki uang sisa. Namun, biasanya mereka masih memiliki uang, hanya tidak menganggap pengembangan diri sebagai prioritas utama.
CARA HEMAT MENGEMBANGKAN DIRI
Pengembangan diri memang perlu uang, namun jumlahnya tidak sebesar yang dikira banyak orang. Mereka menganggap pengembangan diri butuh biaya besar seperti yang banyak dicitrakan iklan majalah dan surat kabar. Memang ada lembaga pengembangan diri yang mengharuskan peserta program membayar mahal. Namun, ada beberapa cara ekonomis
untuk mengembangkan diri.
1 Memanfaatkan perpustakaanSalah satu cara praktis mengembangkan diri adalah dengan banyak membaca buku-buku bagus. Meski harga buku cukup mahal, Anda bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan sehingga tetap bisa membaca buku dengan biaya ringan. Anda sebaiknya tidak membatasi diri membaca buku rohani kita. Kita perlu membaca banyak buku sekuler yang bagus sehingga mendapatkan lebih banyak wawasan.
2 Bergabung dengan komunitas Anda juga bisa menambah pengetahuan dan ketrampilan dengan bergabung dalam komunitas tertentu. Dalam komunitas ini, setiap anggota akan dengan senang hati berbagi keberhasilan dan kegagalan yang dialami sehingga menambah
wawasan anggotanya. Dengan saling berbagi, semua anggota bisa mengembangkan diri secara optimal. Ada banyak komunitas dengan minat tertentu yang bisa dengan biaya terjangkau. Untuk belajar fotografi Anda bisa bergabung dalam komunitas/klub fotografi. Kalau ingin memelihara burung, Anda bisa bergabung dengan kelompok pecinta burung.
3 Belajar dari temanTeman adalah salah satu tempat belajar yang strategis. Namun kita perlu berhati-hati karena pergaulan yang buruk dapat merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor. 15:33). Bergaullah dengan teman yang baik sehingga Anda bisa belajar banyak hal yang baik dari mereka. Milikilah teman-teman yang senantiasa mengembangkan diri mereka sehingga kita bisa banyak belajar mengembangkan diri.
Anda juga bisa mengembangkan diri dengan magang di tempat yang Anda inginkan. Fokus utama bukanlah untuk mendapatkan uang dari pekerjaan tersebut, melainkan pengalaman. Di tempat magang inilah Anda bisa mendapatkan sekolah yang langsung praktik tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar.Dengan langkah-langkah tersebut, Anda bisa mengembangkan diri dengan biaya relatif murah. Pengembang-an diri merupakan hak semua orang, bukan hanya hak orang berduit. Jadi, mengapa tidak mulai dari sekarang?
Kembangkan dirimu se maksimal mungkin./NR/08/08
Kamis, 31 Juli 2008
"ANTARA MEMBERI DAN MENERIMA"

BAGIAN 1
Memberi dan menerima bukanlah suatu tindakan yang asing. Semua manusia akan dengan mudah mengatakan bahwa kedua tindakan tersebut merupakan bagian integral dari aktivitas hidup manusia setiap hari, suatu aksi yang sekian spontan sehingga tak perlu membuang banyak waktu untuk berpikir tentangnya. Namun sesuatu yang amat biasa terkadang menuntut suatu pertimbangan yang lebih layak.
awal yang dilakukan seorang bayi adalah “menerima.
Dalam dunia psikoterapi, yang juga amat menuntut
Adalah suatu kebahagiaan terbesar dalam hidup untuk menyadari bahwa
Di sini Oral Roberts menunjukkan bahwa tindakan kita untuk memberi
Tuhan Yesus memberkati
Hendaklah kita mendengar" mendengar apa yang benar "
