Rabu, 06 Agustus 2008

The Journey of Faith



IMAN DAN KOTAK SURAT

Setiap kali berkirim surat, saya merasa bahwa itu merupakan suatu latihan untuk percaya. Berikut saya jelaskan maksud saya. Ketika saya menulis surat untuk seorang sahabat jauh, saya tidak mungkin mengirimkannya sendiri. Saya memerlukan jasa pelayanan pos.
Namun sebelumnya saya harus memasukkan surat itu ke kotak surat. Saya tidak dapat memegang erat-erat surat itu.
Saya harus melepaskan surat tersebut. Kemudian, saya harus mempercayai pihak pos untuk mengambil alih surat tersebut dan mengantarnya kepada sahabat saya. Meski saya tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan surat itu, saya yakin pihak pos akan membawa surat surat saya ke tempat tujuan dalam keadaan baik sama seperti sewaktu saya poskan.

Demikian pula halnya bila kita dihadapkan pada sebuah persoalan. Saat itu, iman kita diuji. Kita tahu bahwa mustahil bagi kita untuk memecahkan semua permasalahan seorang diri, dan kita harus mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah. Namun pertama-tama kita harus datang kepada-Nya dalam doa dan senantiasa berbicara kepada Allah melalui doa doa kita..

Saat itu kita mungkin masih memegang erat masalah kita meski kita tahu situasi tidak akan berubah bila kita tidak melepaskannya dan menyerahkannya ke dalam tangan Allah. Saat kita menyerahkannya kepada Allah, biarkan Dia mengambil alih sampai masalah itu diselesaikan menurut cara-Nya.

Meskipun kita tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dikerjakan-Nya, iman kita adalah "Bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1), dan jaminan bahwa pekerjaan-Nya selalu dikerjakan dengan sempurna.

Sudahkah Anda belajar untuk mempercayai-Nya hari ini? Mari saya ajak semua sahabat mdc untuk lebih mempercayai Allah ( beriman kpd Allah) karena Dia sanggup melakukan segala perkara.

MEMPERCAYAI ALLAH BERARTI MENGUBAH SEBUAH MASALAH MENJADI SUATU KESEMPATAN

BENSIN IMAN.

Hampir setiap orang berusaha memiliki sepeda motor. Sepeda motor berfungsi salah satunya sebagai alat transportasi dari satu tempat ke tempat lain. Singkatnya untuk mencapai tujuan. Dapatkah orang mencapai tujuan dengan sepeda motor tetapi bensinya habis, kosong ? Dapat dibayangkan jika satu hari saja tidak ada bensin. Manusia tidak dapat kemana-mana dan mengalami kebingunan. Maka setiap pemilik sepeda motor akan selalu mengecek bensin sepeda motor masih ada atau habis. Jika kosong maka segera diisi nah begitu pula dengan hidup kita jangan sampai ada kekosongan terjadi dalam hidup anda segeralah isi dengan bensin illahi yang akan membuat hidup anda jadi bergairah dan bersemangat dalam Tuhan.
Manusia hidup memiliki tujuan. Agar manusia sampai tujuan maka manusia perlu berjalan. Salah satu tujuan hidup manusia bertumbuh, lebih dewasa, ada kemajuan dll. Manusia ingin sampai tujuan tetapi manusia lupa bahwa bahan bakarnya habis, kosong. Sehingga perlu diisi bensin kehidupan. Jika bensinnya nasi cepat habis, karena bensin nasi, sampai siang sudah lapar lagi. Sehingga sebentar-sebentar mesti mengisi bensin nasi. Ada juga yang memakai bensin kekayaan, bensin kekuasaan. Bensin egoisme. Itulah bensin-bensin duniawi yang selalu dikampayekan agar selalu berhenti dan membeli. Padahal dengan mengisi bensin duniawi manusia tidak akan pernah sampai pada tujuan kehidupannya.Tetapi oleh bensin duniawi manusia "seolah-olah" sampai.

Manusia lebih suka membeli bensin duniawi yang cepat habis. Sebetulnya ada bensin yang tidak cepat habis.Yaitu bensin ilahi yang tidak lain adalah iman. Karena bensin iman maka semakin sering dipakai, iman kita bertambah. Tidak pernah habis. Semakin kita beriman kepada Allah berarti kita kan melepaskan iman kita kepada Allah.
Dan Allah menghargai keimanan kita dengan kasihnya menambah iman sebelum iman kita habis dan berhenti di tengah jalan. Dan itulah mengapa semakin kita sering beriman kepada Allah kita keimanan kita bertambah dan bertambah terus. Kita punya iman 1 kita gunakan maka iman kita menjadi 3 digunakan lagi menjadi 9 dan digunakan lagi menjadi 81 dan seterusnya. Kita tidak akan pernah kehabisan bensin iman karena semakin sering kita gunakan iman terus-dan terus bertumbuh, bertambah danberkembang.

Untuk itu sebelum perjalan hidup kita terhenti karena kehabisan bensin duniawi segeralah menggunakan bensin ilahi yang sudah diberi oleh Allah sendiri. Kita tidak perlu membeli karena secara cuma-cuma Allah memberi. Kita hanya perlu menggunakan dan memakainya. Allah sungguh senang ketika kita menggunakan bensin iman, keyakinan kepada Allah, maka Allah akan menambah-nambah iman, dan iman kita pun bertambah dan bertambah. Dan bensin illahi membuat kesukaan yang sangat luar biasa apakah anda sudah siap untuk menerima bensin illahi ini ?

" Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.
NR/2008

Jumat, 01 Agustus 2008

Auto surf Klick,klikck dibayar Mau ?????



Nah dari Pada bengong, sambil baca blog surfing klik klik iklan dapet duit dah
=====KISAH ARLODJI YANG HILANG=====

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkhotbah 4:6). "
Sering kali memang kita harus berdiam diri agar kita bisa mendengarkan suara hati kita dan tentunya suara Tuhan. Dengan berdiam diri kita bisa merasakan betapa besarnya kasih Allah yang selama ini telah kita dapat. Dengan berdiam diri kita bisa menyadari betapa berdosanya kita dihadapan Tuhan, namun hanya karena kasih karuniaNya kita beroleh keselamatan.
Segmen ( mendengar apa yang benar) nr/01/2008

CARA HEMAT MENGEMBANGKAN DIRI

Uang merupakan salah satu harga yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu. Sayangnya, banyak umat Tuhan yang tidak menyadari hal ini. Mereka lupa menyediakan dana untuk pengembangan diri mereka.

TIDAK ADA DANA?

Ada paling tidak tiga hal yang membuat seseorang tidak mengalokasikan sumber daya untuk mendukung pengembangan diri.

1 Menyalahkan keadaan
“Saya tidak mempunyai uang untuk mengembangkan diri!” Ungkapan seperti ini sering saya jumpai ketika menyarankan seseorang agar senantiasa mengembangkan dirinya. Akibatnya mereka merasa tidak bersalah ketika diri mereka tidak berkembang. Mereka menyalahkan keadaan keuangan yang menyebabkan mereka berhenti berkembang.

2 Tidak menyadari kebutuhan untuk berkembang
Salah satu obrolan utama dalam acara reuni adalah membandingkan apa yang sudah dicapai seseorang dengan pencapaian teman-temannya. Dari obrolan seperti ini biasanya seseorang baru menyadari bagaimana usaha yang telah dia lakukan dalam mengembangkan dirinya.
Saat itulah biasanya mereka mengevaluasi total segala usaha yang sudah dilakukan. Sebenarnya, kesadaran ini sudah sa-ngat terlambat. Setiap orang seharusnya mengevaluasi diri apa yang sudah dicapai secara berkala.

3 Salah menentukan prioritas
“Kebutuhan saya sangat banyak, saya tidak memiliki uang sisa untuk mengembangkan diri!” Pernyataan ini biasanya didukung beberapa alasan tambahan untuk membenarkan bahwa uang mereka memang tidak tersisa. Memang, kadang mereka sama sekali tidak memiliki uang sisa. Namun, biasanya mereka masih memiliki uang, hanya tidak menganggap pengembangan diri sebagai prioritas utama.

CARA HEMAT MENGEMBANGKAN DIRI

Pengembangan diri memang perlu uang, namun jumlahnya tidak sebesar yang dikira banyak orang. Mereka menganggap pengembangan diri butuh biaya besar seperti yang banyak dicitrakan iklan majalah dan surat kabar. Memang ada lembaga pengembangan diri yang mengharuskan peserta program membayar mahal. Namun, ada beberapa cara ekonomis
untuk mengembangkan diri.

1 Memanfaatkan perpustakaanSalah satu cara praktis mengembangkan diri adalah dengan banyak membaca buku-buku bagus. Meski harga buku cukup mahal, Anda bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan sehingga tetap bisa membaca buku dengan biaya ringan. Anda sebaiknya tidak membatasi diri membaca buku rohani kita. Kita perlu membaca banyak buku sekuler yang bagus sehingga mendapatkan lebih banyak wawasan.

2 Bergabung dengan komunitas Anda juga bisa menambah pengetahuan dan ketrampilan dengan bergabung dalam komunitas tertentu. Dalam komunitas ini, setiap anggota akan dengan senang hati berbagi keberhasilan dan kegagalan yang dialami sehingga menambah
wawasan anggotanya. Dengan saling berbagi, semua anggota bisa mengembangkan diri secara optimal. Ada banyak komunitas dengan minat tertentu yang bisa dengan biaya terjangkau. Untuk belajar fotografi Anda bisa bergabung dalam komunitas/klub fotografi.
Kalau ingin memelihara burung, Anda bisa bergabung dengan kelompok pecinta burung.

3 Belajar dari temanTeman adalah salah satu tempat belajar yang strategis. Namun kita perlu berhati-hati karena pergaulan yang buruk dapat merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor. 15:33). Bergaullah dengan teman yang baik sehingga Anda bisa belajar banyak hal yang baik dari mereka. Milikilah teman-teman yang senantiasa mengembangkan diri mereka sehingga kita bisa banyak belajar mengembangkan diri.

4 Magang
Anda juga bisa mengembangkan diri dengan magang di tempat yang Anda inginkan. Fokus utama bukanlah untuk mendapatkan uang dari pekerjaan tersebut, melainkan pengalaman. Di tempat magang inilah Anda bisa mendapatkan
sekolah yang langsung praktik tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar.Dengan langkah-langkah tersebut, Anda bisa mengembangkan diri dengan biaya relatif murah. Pengembang-an diri merupakan hak semua orang, bukan hanya hak orang berduit. Jadi, mengapa tidak mulai dari sekarang?
Kembangkan dirimu se maksimal mungkin./NR/08/08

Kamis, 31 Juli 2008

"ANTARA MEMBERI DAN MENERIMA"


BAGIAN 1
"ANTARA MEMBERI DAN MENERIMA "

Memberi dan menerima bukanlah suatu tindakan yang asing. Semua manusia akan dengan mudah mengatakan bahwa kedua tindakan tersebut merupakan bagian integral dari aktivitas hidup manusia setiap hari, suatu aksi yang sekian spontan sehingga tak perlu membuang banyak waktu untuk berpikir tentangnya. Namun sesuatu yang amat biasa terkadang menuntut suatu pertimbangan yang lebih layak. Tindakan memberi dan menerima sudah dipelajari seseorang sejak ia masih merupakan seorang bayi. Walau tanpa kesadaran, tindakan paling
awal yang dilakukan seorang bayi adalah “menerima. Sang bayi menerima dan menghirup udara, ia menerima hidup dan situasi dunia yang sangat jauh berbeda dengan situasi “firdaus” yang dialaminya ketika ia masih dalam rahim ibu. Perbedaan kondisi hidup yang diterima sang bayi pada titik awal ini sering amat menakutkan.

Karena itu sang bayi lalu menangis. Ia membutuhkan sesautu, ia membutuhkan perlindungan yang dengan segera diterimanya dari tindakan memberi dari seorang ibu. Semua yang dialami bayi pada tahap awal ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan hidupnya selanjutnya, bukan saja terbatas pada aksi memberi dan menerima juga secara luas dalam keseluruhan aktivitas hidup sosialnya.

Sang bayi belajar memberi dan menerima, dan menjadikannya sebagai aktivitas spontan hidup hariannya. Antara kedua tindakan tersebut sulitlah untuk dibuat distinksi, sulitlah untuk dibuat prioritas tindakan manakah yang lebih penting dan harus didahulukan. Ada sekian banyak konteks yang harus turut dipertimbangkan untuk memberikan penekanan pada satu dari kedua aksi

Dalam dunia psikoterapi, yang juga amat menuntut keterlibatan kedua tindakan tersebut, “therapeutic acceptance” lebih banyak dipandang sebagai unsur penting dalam sebuah proses
penyembuhan, lebih dari pada berbagai “technological medicine” lainnya. Kebanyakan klien yang mengalami goncangan psikologis melihat hidupnya amat tidak bernilai. Carl Gustav Jung, seorang psikiater terkenal asal Swiss, mengindikasikan bahwa sepertiga dari pasien yang datang kepadanya menderita kehampaan makna hidup (the meaninglessness of life). Hal ini bertolak dari ketidak-sanggupan klien untuk menemukan arti dari keberadaan dirinya sendiri, yang mencakup keseluruhan aspek personalitasnya.

Dalam situasi seperti ini, tindakan “menerima” yang diekspresikan sang psikiater akan melahirkan suatu pemahaman baru dalam diri klien. Dia akan menyadari bahwa dirinya ternyata masih memiliki sesuatu, bahwa ia masih memiliki kata-kata yang layak didengar, sekurang-kurangnya oleh dia¨ yang kini sedang berada di depannya.
Adalah suatu kebahagiaan terbesar dalam hidup untuk menyadari bahwa
saya masih layak didengarkan, masih layak diterima, masih layak dicintai dan mencintai. Dalam proses inilah si klien perlahan-lahan menemukan arti dirinya, dan inilah awal dari suatu proses penyembuhan.

Namun tindakan memberi dan menerima itu dapat pula dilihat dari sudut pandang yang lain. Oral Roberts dalam bukunya “Miracle of Seed-Faith” memberikan tekanan utama pada tindakan “memberi”.
Tindakan memberi, apapun bentuknya baik material maupun rohaniah seperti pemberian kemampuan diri, bakat ataupun waktu bagi orang lain, ditempatkan Roberts sebagai benih-benih yang tertabur, yang pada baliknya akan bertumbuh dan memberikan panen yang berlimpah. Dalam Kitab Suci terdapat banyak kisah tentang hal ini. Pemberian lima buah roti dan dua ekor ikan bagi banyak orang di padang gurun ternyata menjadi benih iman untuk menghasilkan dua belas bakul roti. (Mat. 14, 13-21). Pemberian perahu oleh Simon Petrus untuk digunakan Yesus mengajar orang banyak tentang kabar gembira Kerajaan Allah, ternyata menjadi benih iman untuk menghasilkan banyak ikan. (Luk. 5,1-11).

Di sini Oral Roberts menunjukkan bahwa tindakan kita untuk memberi tidak pernah berlangsung sia-sia, tetapi bahwa dalam tindakan tersebut baik si penerima maupun si pemberi sama-sama menerima “sesuatu”. Bahkan si pemberi menerimanya kembali dalam jumlah yang telah dipergandakan. Namun hal ini tidak dimaksudkan untuk memperkokoh paham 4 kuno “do ut des”, memberi untuk menerima kembali (saya memberi agar engkaupun memberi). Tetapi inilah kebenaran yang ditawarkan oleh Yesus sendiri, “Berilah maka kamu akan diberi.” (Luk6,38).

Dan bahwa si pemberi akan menerima kembali sesuai ukuran yang dipakai dalam memberi kepada orang lain.
Begitulah... Sesuatu yang kita berikan akan diterima kembali. Yang terpenting adalah bahwa pemberian tersebut terjadi dalam konteks “benih iman” yang tertabur, yang menuntut keyakinan kita untuk menempatkan Allah sebagai pusat segalanya, yang akan mempergandakan pemberian itu dan melimpahkannya kembali kepada si pemberi dalam bentuk dan sarana yang tak dipahami manusia.

Kita bersatu bersama Petrus yang bertanya kepada Yesus bahwa ia telah memberikan segala sesuatu tetapi apa upah yang akan diperoleh?? Yesus menjawab “...kamu akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mat. 19, 29).

Tuhan Yesus memberkati

Hendaklah kita mendengar" mendengar apa yang benar "



Senin, 28 Juli 2008

" KARAKTER," HANYA SATU KATA "KARAKTER"


====Karakter ====

Kebenaran dipercayakan kepada orang-orang yang dapat dipercayai.
Kepercayaan semakin langka. Padahal semua orang menginginkan dan berusaha mendapatkannya, karena kepercayaan menjanjikan berbagai peluang. Jadilah banyak tindakan semu untuk membangun kepercayaan. Sikap artifisial yang dibuat-buat. Hasilnya? Hanya melelahkan dan itu tidak akan bertahan lama.

SEBUAH KEPERCAYAAN TIDAK DAPAT DIPAKSAKAN
Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman. Abraham percaya kepada Allah, Allah lalu memperhitungkannya sebagai kebenaran. Dalam hal ini Allah tidak memaksa Abraham untuk percaya kepada-Nya, meskipun pada hakikatnya Ia adalah Allah yang mutlak untuk dipercayai. Karena kepercayaan tidak dapat dipaksakan, dalam kepercayaan tidak ada unsur tekanan, melainkan dimenangkan. Teladan ini menunjukkan kepada kita, betapa pentingnya sebuah kepercayaan. Suatu hubungan yang kokoh dan harmonis dibangun dan dilandasi oleh sikap saling percaya. Kepercayaan merupakan kunci suatu relasi dan kemitraan, baik dalam bisnis, karier, persahabatan, keluarga maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

KEPERCAYAAN DIBANGUN OLEH DUA PIHAK
Tidak ada satu pun yang dapat menjual barang yang namanya ”kepercayaan”. Karena kepercayaan tidak dapat diperjual-belikan melainkan dibangun dan dipelihara dengan baik. Suatu hubungan selalu melibatkan dua pihak, kepercayaan pun demikian. Sebuah pernikahan dibangun atas dasar komitmen saling percaya di antara suami dan istri. Persahabatan, kemitraan, network, kesepakatan bisnis, semua butuh kepercayaan dari masing-masing pihak. Ingatlah bahwa kepercayaan dibangun seumur hidup, namun bisa runtuh seketika. Jika kepercayaan luntur, hubungan pun menjadi hancur.(NR/July/2008


Sabtu, 26 Juli 2008

KETIKA ALLAH TERASA JAUH !!!


KETIKA ALLAH TERASA JAUH
Kita tidak mungkin lari dari Tuhan
Mazmur 139: Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-MU? Jika aku mendaki ke langit, Engkau disana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga disana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. (ayat 7-10)
Tuhan mungkin terasa jauh, tetapi sebenarnya Dia dekat
Kisah Para Rasul 17: Supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalan Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujangga-Mu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. (ayat 27-28)
Dia tidak mungkin mengingkari Firman-Nya
2 Timotius 2: …jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. (ayat 13)
Tuhan tak pernah meninggalkan kita
Ibrani 13: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. (ayat 19)
Kalau Anda sungguh-sungguh mencari, Dia dapat ditemukan
Yeremia 29: apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN… (ayat 13-14)
Jangan balik menyakiti
1 Petrus 3: Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. (ayat 9)
Tidak sekalipun waktu berlalu tanpa Allah bersama kita
Mazmur 46: Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. (ayat 2)
Dia menggenapi tujuan-tujuan yang ditentukan-Nya melalui berbagai cara
Kolose 1: Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (ayat 21-22)
Kadang-kadang seorang Kristen dewasa yang telah mengikuti Tuhan selama bertahun-tahun mengalami masa-masa ketika Allah terasa jauh sekali. Pada umumnya ada tiga alasan yang mungkin menjadi penyebabnya. Pertama, masalah itu bisa disebabkan oleh alasan fisik. Sesuatu yang menimpa tubuh jasmani kita dapat berpengaruh besar pada rohani kita. Penyakit, infeksi karena virus, stres, terlalu banyak pekerjaan (atau kondisi fisik lainnya) dapat mempengaruhi suasana hati kita sedemikian rupa sehingga kita mengira bahwa keadaan rohani kita sedang menurun padahal masalah sebenarnya adalah kondisi fisik yang lemah. Karena itulah, Allah memberikan kesempatan kepada Elia untuk beristirahat dan memulihkan rohnya yang lemah sebelum Ia bekerja di dalam dirinya (lihat 1 Raja-raja 19). Kedua, Allah terasa jauh karena kita telah berdosa dan belum bertobat. Allah telah membuat system kerihanian kita sedemikian rupa sehingga ketika kita berdosa, muncul rasa bersalah. Rasa bersalah seperti ini (berbeda dengan rasa bersalah palsu yang dapat timbul dalam kepribadian kita) adalah cara Allah untuk mendapatkan perhatian kita kembali. Bila situasinya seperti ini, pertobatan adalah satu-satunya jalan untuk kembali. Ingatlah bahwa pertobatan labih daripada sekedar merasa menyesal. Pertobatan berarti sangat menyesal sehingga mau berhenti berbuat dosa. Bila pertobatan telah dilakukan, kita yakin bahwa hubungan kita dengan Allah akan dipulihkan. Alasan ketiga, dan yang paling sering dijumpai, yang menyebabkan kita merasa Allah jauh sekali adalah karena kita gagal untuk menyediakan waktu agar hubungan kita dengan Allah tetap terjaga. Kalau kita tidak menyediakan waktu untuk berbicara kepada Allah secara teratur melebihi doa dan menddengarkan suara-Nya melalui Firman yang kita baca, kita perlu heran jika hubungan kita dengan-Nya mulai memburuk? Seperti dikatakan orang: "Jika Allah terasa jauh sekali, coba terka siapa yang sesungguhnya menjauh?" Allah tidak pernah menjauhi kita, sebaliknya kitalah yang menjauhi Dia.
Bapaku dan Allahku, terima kasih Engkau mengingatkanku bahwa hubunganku dengan-Mu tidak boleh kuabaikan, tetapi harus selalu kupertahankan. Dan jika aku harus bertobat, tolonglah aku untuk segera melakukannya tanpa menundanya lagi. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.